Rencana pemerintah Indonesia melarang ekspor minyak goreng dan bahan bakunya semenjak 28 April, akan berdampak terhadap sejumlah negara pembeli minyak sawit. Pasalnya, Indonesia memiliki pangsa pasar minyak sawit dunia mencapai 55% lebih tinggi dibandingkan Malaysia serta negara produsen lainnya.

Lalu negara mana saja yang merasakan kebijakan penghentian ekspor minyak goreng dan bahan bakunya ini?

1. India

Negara beribukota New Delhi ini adalah pelanggan setia minyak sawit dari Indonesia. Jumlah penduduknya lebih dari 1 miliar jiwa menjadikan negara ini butuh minyak makan dalam jumlah besar. Setiap tahunnya, kebutuhan minyak makan India antara 12 juta-13 juta ton dari beragam minyak nabati Dari jumlah tadi, minyak sawit termasuk CPO, PFAD, dan olein berkontribusi sekitar 8,3 juta ton terhadap impor minyak makan India. Hampir setengahnya atau sekitar 4 juta ton sawit dari Indonesia mengisi kebutuhan India. Posisi kedua adalah Malaysia yang mengapalkan sekira 3,8 juta ton. Kalangan importir dan manufaktur di India cukup terkejut dengan keputusan pemerintah Indonesia yang berencana melarang ekspor sawit dan minyak goreng. BV Mehta, Direktur Eksekutif The Solvent Extractors’ Association of India memproyeksikan tekanan harga akan dihadapi konsumen India sebagai akibat kebijakan Indonesia.

Jelas ada kesenjangan permintaan-penawaran, ini akan berdampak pada harga,

Sementara itu, Sudhakar Rao Desai, Presiden Indian Vegetable Oil Producers’ Association berharap pemerintah Indonesia tidak melanjutkan larangan ekspor sawit. Mengingat, jumlah ekspor sawit Indonesia setiap bulan 2 juta ton. Apalagi ada keterbatasan tanki penyimpanan untuk menampung minyak sawit.

2. Tiongkok

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, Tiongkok mengimpor 258.300 ton sawit dari Indonesia. Sementara itu, volume impor dari Malaysia sebesar 242.800. Masing-masing menyumbang sekitar 52 persen dan 48 persen dari total impor Tiongkok, sebagaimana dikutip dari situs perdagangan mysteel.com.

Chen Hao, Pelaku industri retail yang berbasis di Shanghai mengatakan turunnya pasokan minyak sawit dari Indonesia akan berdampak kepada kenaikan minyak kedelai, minyak kacang tanah, dan minyak colza. “Mesti diakui, minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia dalam industri dengan volume perdagangan tertinggi,” ujar Chen seperti dikutip dari Global Times. Defisit pasokan sawit, dikatakan Chen, akan meningkatkan permintaan kacang tanah. “Otoritas terkait seperti China Grain Reserves akan melepaskan cadangan kacang tanah jika harga meroket di luar penerimaan pasar,” jelasnya.

3. Pakistan

Di kawasan Asia Selatan, Pakistan merupakan pembeli sawit dari Indonesia semenjak puluhan tahun lalu. Sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina, impor pangan Pakistan diperkirakan naik 15,46% menjadi US$7,06 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2022 dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 6,12 miliar. Merujuk data GAPKI, jumlah ekspor produk sawit Indonesia ke Pakistan naik menjadi 2,63 juta ton sepanjang 2021. Pertumbuhan ekspor ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya 2,5 juta ton.

Minyak kelapa sawit banyak digunakan oleh industri untuk pembuatan vanaspati (ghee). Selain itu, sawit digunakan oleh industri makanan di Pakistan untuk menggoreng. Pakistan merupakan salah satu negara non tradisional yang menjadi mitra dagang strategis bagi Indonesia. Kementerian Perdagangan menyebutkan sejak implementasi Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP PTA) pada 2013, produk minyak sawit Indonesia telah menggeser dominasi produk minyak sawit Malaysia di pasar Pakistan. Dalam konstelasi perdagangan minyak sawit global, Pakistan menjadi destinasi yang strategis sekaligus sebagai pintu gerbang akses pasar komoditi Indonesia untuk masuk kawasan Asia Tengah dan negara “Tan Brothers” seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Tajikistan .

4. Bangladesh

Pada tahun 2021, Bangladesh mengimpor 1,35 juta ton sawit, sedangkan impor kedelai sebesar 1,16 juta ton. Sekitar 80% minyak sawit didatangkan dari Indonesia dan 20% dari Malaysia. GAPKI melansir data bahwa volume ekspor sawit Indonesia ke Bangladesh mencapai 1,28 juta ton pada 2021. Ada kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 1,05 juta ton.

5. Uni Eropa

Negara-negara di kawasan Uni Eropa akan kebingungan mencari minyak nabati apabila larangan ekspor sawit Indonesia berjalan. Sepanjang 2021, kebutuhan impor sawit dari Benua Biru ini mencapai 6,7 juta ton. Ekspor sawit dari Indonesia ke Uni Eropa mengalami penurunan menjadi 4,7 juta ton pada 2021. Dibandingkan tahun sebelumnya, volume ekspor ke Eropa masih terbilang tinggi sebesar 4,9 juta ton. Kasan Muhri, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, menjelaskan bahwa di pasar Eropa cukup tinggi hambatan perdagangan yang dihadapi terutama kebija.

kan non tarif. Maraknya kampanye negative ditujukan menekan daya saing sawit. Lantaran, tingginya produktivitas minyak sawit menjadi ancaman bagi minyak nabati yang dihasilkan negara-negara di Uni Eropa. Namun demikian, dijelaskan Kasan, hambatan non tarif tidak mampu menggoyahkan kelapa sawit. Terbukti, ekspor sawit dan produk turunannya tetap tinggi ke Uni Eropa mencapai US$ 3,1 miliar pada 2020. Nilai ini lebih tinggi dari tahun 2019 sebesar US$ 3 miliar. Salah satu produk sawit dari Indonesia yang diminati adalah Refined Palm Oil. Dari Januari sampai Mei 2021, nilai penjualan refined palm oil mencapai US$713,2 juta. Ada pertumbuhan 64,5% daripada periode sama tahun 2020 sebesar US$432,6 juta.