Anemia dan Generasi Muda : Tak sedikit orang yang menganggap anemia atau kurang darah bukan masalah serius khususnya kaum perempuan. Padahal, penyakit ini bisa menjadi indikasi kondisi kurang gizi yang harus segera diperbaiki. Sebab, jika tidak, dan berlangsung jangka panjang (kronis), anemia juga punya peluang besar mengancam nyawa.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada April 2018 di Clinical and Experimental Nephrology, sebuah jurnal yang diterbitkan komunitas Nephrology di Jepang (the Japanese Society of Nephrology [JSN]) membuktikan hal itu. Mulanya penelitian ini dimaksudkan untuk menilai hubungan antara anemia dan penyakit ginjal kronis atau (chronic kidney disease/CKD) dengan partisipan lebih dari 60.000 orang Jepang. Namun, para peneliti menemukan bahwa subjek yang anemia memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, tidak peduli apa status CKD mereka. Tidak peduli berapa usia mereka. Sehingga, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa anemia merupakan faktor risiko independen untuk kematian.

Penderita Anemia Di Indonesia

Di Indonesia, jumlah remaja putri yang mengalami anemia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia pada 2018 menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia pada kelompok umur 5–14 tahun sebesar 32 persen. Jumlah ini meningkat dari 2014 yang hanya 26,4 persen. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi anemia pada remaja putri lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional. Terdapat 52 persen remaja putri di Jawa Timur yang mengalami anemia. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki.

Anemia merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah pada tubuh. Berdasarkan pedoman World Health Organization (WHO), remaja di katakan anemia bila kadar hemoglobinnya kurang dari 12mg/dl (WHO, 2008). Hasil penelitian tentang anemia dan remaja yang di lakukan oleh Tesfaye dan tim pada 2015 dan di terbitkan dalam jurnal Adolescent health, medicine and therapeutics menyebutkan bahwa penurunan kadar hemoglobin (Hb) di pengaruhi oleh peningkatan kebutuhan zat besi, penurunan asupan zat besi, pertumbuhan fisik yang cepat, pada saat menstruasi, dan kebutuhan zat besi yang tinggi untuk pembentukan hemoglobin.

Dampak Buruk Anemia Terhadap Remaja

Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas. Karena jika kondisi ini di biarkan, akan memperlemah generasi muda dalam pengembangan diri. Lemahnya generasi muda berarti memperlemah negara. Bukankah generasi muda adalah tulang punggung negara?

Karena itu, penting melakukan upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja, terutama remaja putri agar generasi muda kita terus sehat dan makin produktif. Tentu saja upaya tersebut perlu melibatkan banyak pihak dari berbagai profesi. Mulai dari tenaga kesehatan hingga dosen. Di karenakan, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Harapannya, melalui literasi anemia ini remaja putri memiliki pengetahuan tentang anemia dan cara pencegahannya sehingga dapat mengatur pola konsumsi makanan dengan lebih sehat. Terutamanya remaja putri yang sehat dengan status gizi yang baik dan tidak anemia akan menjadi calon generasi muda yang sehat dan cerdas dan calon ibu yang sehat di masa depan.

Anemia dan Generasi Muda : Pengobatan Anemia

Metode pengobatan anemia tergantung pada jenis anemia yang di derita pasien. Perlu di ketahui, pengobatan bagi satu jenis anemia bisa berbahaya bagi anemia jenis yang lain. Oleh karena itu, dokter tidak akan memulai pengobatan sebelum mengetahui penyebabnya dengan pasti.

Beberapa contoh pengobatan anemia atau obat kurang darah berdasarkan jenisnya adalah:

  • Anemia akibat kekurangan zat besi
    Kondisi ini di atasi dengan mengonsumsi makanan dan suplemen zat besi. Pada kasus yang parah, di perlukan transfusi darah.
  • Anemia pada masa kehamilan
    Kondisi ini di tangani dengan pemberian suplemen zat besi, asam folat, dan vitamin B12, yang dosisnya di tentukan oleh dokter.
  • Anemia akibat perdarahan
    Kondisi ini di obati dengan menghentikan perdarahan. Bila di perlukan, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi atau transfusi darah.
  • Anemia aplastik
    Pengobatannya adalah dengan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, atau transplantasi (cangkok) sumsum tulang bila sumsum tulang pasien tidak bisa lagi menghasilkan sel darah merah yang sehat.
  • Anemia hemolitik
    Pengobatannya dengan menghentikan konsumsi obat yang memicu anemia hemolitik, mengobati infeksi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, atau pengangkatan limpa.
  • Anemia akibat penyakit kronis
    Kondisi ini di atasi dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Pada kondisi tertentu, di perlukan transfusi darah dan suntik hormon eritropoietin untuk meningkatkan produksi sel darah merah.
  • Anemia sel sabit
    Kondisi ini di tangani dengan suplemen zat besi dan asam folat, cangkok sumsum tulang, dan pemberian kemoterapi, seperti hydroxyurea. Dalam kondisi tertentu, dokter akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik.
  • Thalassemia
    Dalam menangani thalassemia, dokter dapat melakukan transfusi darah, pemberian suplemen asam folat, pengangkatan limpa, dan cangkok sumsum tulang.