(AS) melalui United States Trade and Development Agency (USTDA) menawarkan berbagai peluang kerja sama dalam bidang pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dengan pembiayaan hingga US$1m5 juta. Tawaran dikemukakan USTDA melalui dukungan Konsulat AS pada seminar bertajuk Lets Do It: Business Outreach Event USTDA. Seminar berlangsung di Hotel JW Marriot, Kota Medan, Sumatra Utara, Selama ini, menurut Konsul AS untuk Sumatra Gordon Church, pihaknya telah menjalin berbagai bentuk kerja sama dengan Indonesia, mulai dari sektor kesehatan hingga keamanan. “Tapi pada hari ini kami ingin berbicara lebih banyak tentang bisnis dan perdagangan,”

USTDA memiliki sejumlah sektor prioritas yakni information, communication technology (ICT), smart cities dan health care. Melalui seminar ini, USTDA akan mengidentifikasi peluang kerja sama untuk ditawarkan kepada para peserta. Nantinya, USTDA akan menjembatani mereka dengan perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS.  Gordon menjelaskan, perangkat proyek dan kemitraan USTDA meliputi studi kelayakan, rencana induk, bantuan teknis, proyek percontohan, rekayasa dan desain serta pelatihan dan peningkatan kapasitas. Seminar dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai unsur mulai dari instansi pemerintahan, rumah sakit, badan usaha milik negara (BUMN), perbankan hingga pelaku usaha.

Dari kalangan pemerintahan, hadir perwakilan Pemko Medan, Pemko Batam, Pemkab Natuna, Pemkab Aceh Singkil, Pemprov Sumatra Utara dan Pemprov Kepulauan Riau. Dari kalangan pengelola rumah sakit antara lain dihadiri perwakilan Rumah Sakit Universitas Sumatra Utara, Rumah Sakit Murni Teguh dan Rumah Sakit Umum Daerah dr Pirngadi. Gordon mengatakan, prospek hubungan dagang antara AS dan Indonesia belakangan ini meningkat signifikan sebesar 30 persen atau US$36 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak 30 persen disumbang oleh Sumatra. “Saya pikir masih ada banyak lagi yang bisa kita lakukan bersama,” kata Gordon.

USTDA alias Badan Perdagangan dan Pengembangan Amerika Serikat selama ini membantu perusahaan-perusahaan untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Program tersebut diciptakan melalui ekspor barang dan layanan AS untuk proyek infrastruktur prioritas di berbagai negara ekonomi berkembang. USTDA menghubungkan sektor bisnis AS melalui peluang ekspor dengan mendanai persiapan proyek dan aktivitas infrastruktur berkelanjutan demi mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra. Melalui seminar ini, The United States International Development Finance Corporation (DFC) menawarkan dana hibah atau pembiayaan mulai dari US$500.000 hingga US$1.500.000. Menurut Managing Director DFC Douglas Midland, usulan yang akan diakomodir mesti merangkum beberapa kriteria, antara lain dampak pembangunan yang positif, kelangsungan keuangan dan ekonomi serta potensi ekspor AS.

Douglas mengatakan, DFC bersedia memberi suku bunga dan termin Dan kami akan memberikan suku bunga serta termin yang fleksibel serta transparan. “DFC bisa membiayai proyek-proyek yang mungkin kurang cocok untuk didanai oleh bank konvensional. Tetapi kami juga bisa menjadi sumber pembiayaan tambahan bila suatu proyek sudah mendapatkan pendanaan lain,” ujar Douglas. DFC merupakan bank pembangunan yang bertujuan memodernisasi kemampuan keuangan pengembangan pemerintah AS. Selama ini, DFC bermitra dengan sektor swasta untuk membiayai negara-negara berkembang dam menghadapi tantangan berat. DFC berinvestasi di berbagai bidang. Mulai dari bidang energi, layanan kesehatan, infrastruktur hingga teknologi. Selain itu, DFC juga membiayai kalangan usaha kecil dan perempuan untuk menciptakan lapangan kerja di negara ekonomi berkembang.