Begini Tahap Pengelolaan : Belum lama ini, Bank Indonesia (BI) secara resmi mengeluarkan tujuh pecahan Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (TE 2022), pada Kamis (18/8/2022). Adapun uang rupiah TE 2022 terdiri atas nominal Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Bank Indonesia memang diberikan tugas dan wewenang untuk mengelola Uang Rupiah. Pengelolaan uang rupiah bertujuan untuk mendukung terpeliharanya stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran.

1. Tahap perencanaan

Pada tahap pertama, BI akan menetapkan jumlah dan jenis pecahan berdasarkan perkiraan kebutuhan Rupiah dalam periode tertentu.

Sebelum menetapkan jumlah yang akan dicetak, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, seperti asumsi tingkat inflasi, asumsi pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, kebijakan perubahan harga uang Rupiah, kebutuhan masyarakat terhadap jenis pecahan uang Rupiah tertentu, dan tingkat pemalsuan.

Adapun, faktor lain yang turut menjadi pertimbangan BI dalam merencanakan pencetakan Rupiah, antara lain:

Tambahan uang kartal yang diedarkan

Beberapa hal seperti inflasi, suku bunga, outflow, inflow, produk domestik bruto dan nilai tukar menjadi perhatian BI sebelum menentukan tambahan uang kartal yang akan diedarkan.

Penggantian uang yang di musnahkan karena tidak layak edar

Sebagian besar uang yang dimusnahkan merupakan uang yang dinyatakan tidak layak edar oleh BI.

Menjaga kecukupan persediaan kas Bank Indonesia melalui penetapan Kas Minimum dan Iron Stock Nasional

Jumlah kas minimum yang ditetapkan BI saat ini, yaitu sebesar dua hari rata-rata outfow bulanan untuk kantor pusat Bank Indonesia, satu minggu rata-rata outflow bulanan untuk kantor Bank Indonesia di wilayah Jawa, dan 2 minggu rata-rata outflow bulanan untuk kantor Bank Indonesia di wilayah non-Jawa. Sementara itu, jumlah Iron stock Nasional ditetapkan sebesar 15 persen dari Uang Kartal yang Diedarkan (UYD).

Sementara, perencanaan uang Rupiah emisi baru di lakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti tingkat pemalsuan uang, nilai instrinsik uang, masa edar uang, dan kebutuhan masyarakat akan pecahan baru

2. Tahap pencetakan

Tahap kedua merupakan realisasi dari tahap perencanaan. Rencana tersebut mencakup rencana jumlah nominal dan jumlah lembar Uang Rupiah kertas, serta rencana jumlah nominal dan keping Uang Rupiah logam.

Dalam proses pencetakan, BI bekerjasama dengan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri), satu-satunya BUMN yang bergerak dalam bidang pencetakan Uang Rupiah. Bank Indonesia berkewajiban menyediakan bahan baku uang sebesar pesanan cetak di tambah dengan tingkat salah cetak (inschiet).

Sebelum di kirim ke Perum Peruri, bahan uang tersebut harus melalui serangkaian uji mutu di laboratorium dan telah di nyatakan lolos pengujian untuk memastikan kesesuaian dengan spesifikasi teknis yang di tetapkan Bank Indonesia.

3. Tahap pengeluaran

Bank Indonesia memiliki wewenang dalam mengeluarkan Uang Rupiah dalam bentuk emisi baru. Uang Rupiah desain baru, dan Uang Rupiah khusus (commemorative currency).

Pengeluaran Uang Rupiah baru di atur dalam Peraturan Bank Indonesia yang di tempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, serta di umumkan melalui media massa. Tujuannya agar masyarakat di seluruh wilayah NKRI dapat mengetahui adanya pengeluaran uang baru oleh Bank Indonesia.

4. Tahap pengedaran

Kegiatan pengedaran uang Rupiah mencakup distribusi uang Rupiah dan layanan kas. Kegiatan di stribusi Uang Rupiah di lakukan untuk memenuhi kebutuhan kas di seluruh wilayah kerja Bank Indonesia.

Sementara itu, kegiatan layanan kas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui penarikan dan penyetoran perbankan. Termasuk Kas Titipan, dan penukaran uang rusak/cacat/lusuh milik masyarakat.

Mekanisme pendistribusian Uang Rupiah di lakukan dari Kantor Pusat Bank Indonesia kepada Kantor-kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwDN) yang berfungsi sebagai Kantor Depo Kas (KDK). Selanjutnya KDK akan mendistribusikan kepada KPwDN lainnya.

5. Pencabutan atau penarikan

Kegiatan pencabutan atau penarikan Uang Rupiah di masyarakat menandakan bahwa uang tersebut sudah tidak dapat lagi di gunakan sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI. Pertimbangan yang di ambil BI sebelum menarik Uang Rupiah. Yaitu karena masa edar suatu pecahan sudah terlalu lama dan adanya perkembangan teknologi unsur pengaman (security features) pada uang.

Di samping itu, juga di maksudkan untuk mencegah dan meminimalisir peredaran uang palsu serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan yang ada.

6. Pemusnahan

Uang yang di musnahkan Bank Indonesia merupakan uang yang tidak lagi layak edar. Baik karena lusuh, cacat, rusak maupun Uang rupiah yang masih layak edar namun tidak lagi mempunyai manfaat ekonomis dan/atau kurang di minati masyarakat. Serta uang yang telah di cabut/di tarik dari peredaran.

Pemusnahan uang kertas di lakukan dengan meracik yang tersebut agar tak lagi menyerupai uang kertas. Baik dengan menggunakan Mesin Sortasi Uang Kertas (MSUK) dan/atau Mesin Racik Uang Kertas (MRUK). Sementara, pemusnahan uang logam di lakukan dengan cara di lebur atau dengan cara lainnya.