Seorang pengusaha waralaba penjualan minuman berjejaring, Alriza Wahardika. Di tangkap aparat Polresta Solo pekan lalu atas dugaan penipuan dan penggelapan uang. Korbannya adalah Restu Dwi, warga Semarang yang jadi mitra tersangka. Nominal uang yang di duga di gelapkan Rp93 juta.

Informasi yang di himpun Solopos.com, Selasa (16/8/2022), kasus ini bermula saat Restu tertarik dengan bisnis waralaba minuman berjejaring yang di jalankan Alriza. Setelah adanya komunikasi dengan Alriza mengenai syarat dan modal, Restu akhirnya memutuskan berinvestasi di bisnis tersebut.

Beberapa pekan kemudian, Restu bertemu langsung dengan Alriza untuk membahas kerja sama bisnis tersebut. Pertemuan di laksanakan di salah satu resto di Solo. Kala itu, Alriza memberi iming-iming diskon khusus jika bekerja sama sebagai mitra produk minuman tersebut.

Apabila mendaftar sebagai mitra dengan durasi kerja sama selama dua tahun, korban mendapat diskon 10 persen, jadi Rp85 juta. Harga normal pendaftaran sebagai mitra senilai Rp95 juta.

“Korban telah membayar kewajibannya sebagai mitra kepada Alriza. Namun, barang-barang yang di janjikan tak kunjung datang. Alriza sudah di tetapkan sebagai tersangka dan di tangkap pada pekan lalu,” kata Kasatreskrim, Kompol Djohan Handika, mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, Selasa (16/8/2022).

Perawatan medis

Djohan menyebut tersangka sempat sakit setelah di tahan. Polisi lantas membawa tersangka untuk mendapat perawatan medis di Klinik Bhayangkara Polresta Solo. Penyidik telah memintai keterangan korban yang melaporkan kasus itu pada akhir Juli lalu.

Disinggung ihwal apakah ada mitra lain yang menjadi korban, Kasatreskrim menyebut hanya menerima satu laporan. “Mungkin ada korban lainnya. Namun, kami baru menerima satu laporan  saja,” papar dia.

Pengacara korban, Aditya, mengatakan kliennya telah menyetor uang kurang lebih Rp90 juta kepada tersangka. Namun, tersangka hanya mengirim sebagian barang ke kafe milik kliennya di Salatiga.

Kliennya sempat melayangkan dua kali somasi atau teguran kepada tersangka agar segera memenuhi kewajibannya. Lantaran tak ada itikad baik, korban melaporkan kasus tersebut ke polisi.

“Saat bertemu, Alriza mengiming-imingi omzet penjualan bisa mencapai Rp300 juta per bulan. Total kerugian klien saya jika dihitung sejak awal mencapai Rp93 juta,” kata Aditya.