Di Tengah Ancaman Resesi: Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono memperkirakan sejumlah sektor usaha dapat bertahan di tengah resesi 2023. Sektor yang paling tahan banting di masa sulit tersebut adalah yang berorientasi ke pasar domestik. Bukan berorientasi ekspor. “Jika perekonomian dunia melambat, harga komoditas akan ikut melemah. Termasuk komoditas andalan ekspor Indonesia seperti sawit. Batu bara. Nikel. Tekstil. dan Kayu lapis.

Di Tengah Ancaman Resesi

Dengan demikian, sektor-sektor yang berorientasi ekspor di proyeksikan akan mengalami tekanan berat ke depan seiring dengan melemahnya permintaan global. Selanjutnya, Yusuf mengatakan industri yang akan tetap moncer adalah usaha yang tidak banyak bergantung pada utang untuk pembiayaannya. Musababnya. Kata dia, kenaikan suku bunga AS telah menciptakan tekanan kepada Bank Indonesia untuk meningkatkan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga dilakukan untuk mencegah aliran modal keluar, capital outflow, serta menjaga nilai tukar rupiah supaya tidak terdepresiasi secara berlebihan.

Kenaikan suku bunga acuan domestik ini akan meningkatkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan sehingga biaya produksi bakal meningkat. Selanjutnya, sektor yang tahan banting adalah usaha yang konsumen utamanya bukan kelas atas. Sebab kelas atas akan lebih banyak menabung daripada belanja. Kondisi ini dapat dilihat dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan menurunkan permintaan uang. Dengan suku bunga yang lebih tinggi itu, masyarakat kelompok atas cenderung menabung ketimbang membelanjakan uangnya. Akibatnya, permintaan ke barang-jasa luxury berpotensi melemah.

Selain itu, sektor usaha yang akan moncer adalah yang tidak membutuhkan kredit perbankan dalam proses transaksinya. “Industri penghasil durable goods seperti perumahan atau properti, produk otomotif, produk elektronik dan furnitur, akan banyak tertekan karena untuk membelinya, konsumen banyak bergantung pada kredit yang akan mahal.

 menuturkan kiat terpenting di masa resesi adalah mempertahankan konsumen, meski harus memotong keuntungan. “Sepanjang konsumen bertahan, bisnis akan survive,” ucapnya. Di sisi lain, Yusuf memprediksi bisnis yang masih mengandalkan akuisisi konsumen dengan predatory pricing tidak akan bertahan panjang di era resesi. Sektor usaha itu harus menemukan model bisnis yang mengandalkan nilai tambah dan kemanfaatan orisinal dari produk serta akuisisi konsumennya.