Nilai tukar mata uang di emerging market wilayah Asia, termasuk Indonesia, diprediksi akan terus mengalami tekanan seiring dengan kondisi global yang memburuk dan sentimen risk off dari pengetatan moneter yang dilakukan The Fed. Dilansir dari Bloomberg pada Senin (27/6/2022), analis Goldman Sachs Group Zach Pandl dan Danny Suwanapruti dalam risetnya menyebutkan, mata uang seperti peso Filipina, rupee India, dan rupiah cenderung mengalami tekanan selama bulan Juni.

“Nilai tukar ketiga mata uang ini masih akan mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa pekan ke depan,” demikian kutipan laporan tersebut dari Bloomberg.  Adapun, pergerakan nilai tukar mata uang emerging market di wilayah Asia ditekan oleh langkah The Fed untuk mengendalikan inflasi memperkuat nilai dolar AS. Sementara itu, sebagian besar bank sentral di wilayah Asia lebih memilih langkah yang lebih sabar. Terbaru, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen, suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupee India melemah ke level terendahnya sepanjang sejarah pada pekan lalu. Nilai tukar peso Filipina juga mencatatkan pelemahan terbesarnya selama lebih dari 16 tahun.Adapun, menurut Pandl dan Suwanapruti menyebutkan, rupiah cenderung outperform dibandingkan dengan nilai tukar di emerging market lainnya.

Hal ini didukung oleh prospek positif neraca transaksi berjalan serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. “Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus menghadapi tekanan upside hingga Bank Indonesia mengikuti langkah The Fed dalam meningkatkan suku bunga acuan,” demikian kutipan riset tersebut. Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau menguat 0,29 persen atau 42,5 poin kelevel Rp14.805 per dolar AS hingga pukul 11.14 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,134 poin atau 0,13 persen ke level 104,051 pada pukul 11.13 WIB.