Harga minyak mentah dunia sempat menurun selama dua hari berturut-turut menyusul kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi, serta berkurangnya likuiditas. Mengutip data Bloomberg, Kamis (7/7/2022) minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih diperdagangkan di kisaran US$99,24 per barel, meningkat 0,72 persen. Sebelumnya, harga minyak mentah WTI sempat terperosok menjadi US$95,47. Adapun harga minyak mentah Brent juga naik 0,74 persen menjadi US$101,44 per barel. Hari sebelumnya, Brent tercatat menurun menjadi US$99 per barel.

Analis Citirgroup Inc, Ed Morse mengatakan, permintaan minyak mentah kemungkinan akan menurun di tengah harga bahan bakar yang lebih tinggi. “Hampir semua orang telah mengurangi ekspektasi permintaan mereka untuk tahun ini,” kata Morse dikutip dari Bloomberg, Kamis (7/72022). Sementara itu, analis Goldman Sachs & Co, Damien Courvalin mengatakan kemungkinan resesi yang diproyeksikan meningkat seharusnya tidak membuat pasar minyak mudah menyerah.

“Ekonomi global masih tumbuh, dengan kenaikan permintaan minyak tahun ini secara signifikan akan mengungguli pertumbuhan PDB,” ujar Courvalin. Harga minyak yang bergejolak saat ini terpengaruh sentimen kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) serta perhitungan investor yang memprediksi adanya perlambatan permintaan seiring konflik Rusia-Ukraina yang berlarut-larut. Minyak mentah telah mengalami kenaikan lebih dari 45 persen tahun ini menjadi sekitar $113 per barel. Citigroup Inc mengatakan minyak mentah diperkirakan turun menjadi US$85 per barel pada akhir tahun 2022, dan bisa turun menjadi US$65 jika terjadi resesi yang parah.

Sementara itu, Arab Saudi justru tengah melakukan diskon minyak mentah besar-besaran karena persaingan harga minyak murah dengan Rusia yang memicu ketatnya persaingan juragan minyak. China dan India sebelumnya menjadi pelanggan tetap minyak Arab Saudi, namun ketika Rusia menurunkan harga, mereka pun beralih. Tidak hanya Arab Saudi yang tertekan karena permintaan minyak Asia terhadap Rusia, melainkan juga Iran dan Venezuela serta Irak yang terkena dampaknya.

Arab Saudi dikabarkan Bloomberg telah memotong harga untuk Eropa dan AS. Pasalnya, grade minyak yang dipasarkan Arab Saudi, seperti Arab Heavy dan Arab Medium untuk bahan bakar perkapalan dan pembangkit listrik cenderung kurang menguntungkan. Arab Saudi mengirimkan sekitar 60 persen dari ekspor minyak mentahnya ke wilayah Asia, dengan konsumen terbesar yang berasal dari China, Jepang, India, dan Korea Selatan.