Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut tensi geopolitik Rusia-Ukraina telah meningkatkan risiko krisis pangan secara global. Ini tercermin dari naiknya jumlah penduduk global yang masuk dalam kategori rawan pangan dari semula 135 juta menjadi 276 juta orang. Jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2009 semula 135 juta (orang) menjadi 276 juta orang. Ada urgensi di mana krisis pangan harus ditangani,” tuturnya dalam pembukaan 3rd Financial Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG)

Ia mengatakan, lonjakan harga pangan yang telah terjadi beberapa waktu terakhir telah diperburuk akibat sanksi pembatasan ekspor kepada Rusia. Ini menunjukkan bahwa fakta pandemi Covid-19 dan ketegangan geopolitik telah mendorong harga pangan ke level tertinggi. Melalui forum G-20, Menkeu berharap akan mendapatkan rumusan kebijakan dan mekanisme pembiayaan untuk mengatasi masalah krisis pangan global dan mendorong harga pangan kembali stabil. Langkah cepat diperlukan untuk menyelamatkan hidup dan memperkuat stabilitas keuangan dan sosial.

“Kebijakan ekonomi makro yang baik juga menjadi fundamental penting untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat stabilitas keuangan dan sosial dan mengendalikan harga komoditas,”

Pastikan Kondisi Ekonomi Indonesia Terjaga

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia cukup kuat dan berdaya tahan terhadap kondisi krisis global, sehingga tidak akan seperti Sri Lanka. Kondisi ekonomi global yang dinamis atau menghadapi berbagai tekanan mulai dari situasi geopolitik yang bergejolak. Selain itu faktor kenaikan harga-harga juga menyebabkan lonjakan inflasi sehingga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

“Seluruh dunia menghadapi konsekuensi geopolitik dalam bentuk kenaikan bahan-bahan makanan, kenaikan harga energi yang mendorong lebih tinggi lagi inflasi setelah meningkat akibat pandemi,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers rangkaian G-20 di Nusa Dua Bali. Lonjakan inflasi di berbagai negara juga diperparah situasi geopolitik perang di ukraina yang menimbulkan dampak kenaikan harga pangan dan energi.

“Jadi itu triple dari sisi supply disruption, pangan dan energi,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menjelaskan, terdapat beberapa faktor untuk melihat ketahanan negara jauh dari resesi yakni neraca pembayarannya, neraca perdagangan, aliran modal asing ke dalam negeri, hingga cadangan devisa akan memiliki implikasi terhadap dampaknya ke nilai tukar rupiah. Jadi kalau mereka mengalami kontraksi dalam akibat pandemi dan belum pulih ditambah dengan kemudian inflasi yang tinggi yang sekarang ini terjadi, ini akan semakin menimbulkan kompleksitas suatu negara. Kemudian mereka juga akan melihat dari sisi monetary policy-nya,” jelas Sri Mulyani.

Selanjutnya faktor, kondisi utang pemerintah maupun swasta di Indonesia yang dinilainya masih dalam kondisi aman termasuk defisit anggaran yang akan terus dilakukan konsolidasi fiskal menuju defisit maksimal 3% terhadap PDB, sehingga kondisi RI dinilai masih jauh dari resesi. Meski demikian, Sri Mulyani mengatakan akan terus mewaspadai berbagai dinamika global yang memiliki implikasi terhadap ekonomi domestik.

“Kita tetap waspada namun pesannya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita, dan apakah itu fiscal policy, moneter policy di Otoritas Jasa Keuangan di financial sektor dan juga regulasi yang lain untuk memonitor itu.