Lansia Asal Tanah Datar Ini Berhasil Raup Untung Besar! Hebat itu lah kata yang patut disematkan pada M Jinis Khatib Jalelo, seorang pria 64 tahun asal Tanah Datar.

Ia merupakan seorang pengusaha yang sukses di tengah keterbatasan modal.

Bahkan, keuntungan yang ia peroleh hari ini dimulai dengan tanpa modal sepeserpun.

Pengusaha peti buah asal Jorong Baduih

M Jinis adalah pengusaha peti buah asal Jorong Baduih, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan.

Bisnis peti buahnya itu benar-benar dimulai dari nol, tanpa modal sepeserpun, lantaran mengalami kerugian akibat kegagalan panen di ladang.

Ya, sebelum jadi pebisnis peti buah, ia adalah pekebun. Pada tahun 2007 silam, ladangnya gagal panen.

Kegagalan panen ini membuat Lansia ini mengalami kerugian yang cukup besar.

Sehingga ia harus memutar otak lebih kencang agar bisa menghasilkan uang dan menghidupi keluarga.

Hingga akhirnya ia terbesit ide untuk membuat kayu Piri-piri. Tapi ide itu malah tak bisa langsung dilaksanakan.

Lantaran M Jinis tidak memiliki alat untuk membuat kayu tersebut.

Beruntung, keponakannya yang tinggal di Kota Padang punya mesin potong kayu.

Sehingga, mesin tersebut di manfaatkannya untuk memulai membuat kerajinan kayu piri piri.

“Saya pinjamlah mesinnya dan saya bawa ke kampung. Sedangkan untuk kayu yang di olah menjadi piri piri, saya beli dengan cara di hutang.”

“Harga satu truk kayu seharga Rp700 ribu ketika itu. Makanya, ketika memulai usaha modal saya nol rupiah,” katanya.

Sayangnya, sebut dia, usaha kerajinan kayu piri piri tak begitu menjanjikan.

Hal itu di sebabkan karena hasil dari penjualan kayu piri piri hanya cukup untuk biaya makan sekeluarga.

Meski begitu, ka tidak menyerah dan terus menjalani usaha kayu piri piri tersebut.

Hingga kemudian salah seorang pengusaha peti buah menawarinya untuk bekerja sama.

Karena, pengusaha peti buah itu tertarik untuk membeli kayu pari pari yang di buatnya. Namun ketika itu di beli dengan harga murah.

“Selain itu, pengusaha peti buah itu juga menawari saya untuk membuat bingkai peti buah dan di jual kepadanya.”

“Tawaran tu saya terima. Beberapa bulan kemudian, juga di tawari buat dinding peti,” ujarnya.

Di tahun 2010, lanjut Lansia ini, dia pun di datangi seorang pengusaha ekspor buah untuk bekerja sama membuat peti buah.

Di awal kerja sama tersebut, dia pun hanya bisa membuat 50 peti buah sehari.

Padahal, permintaan peti buah kala itu sangat banyak jumlahnya.

“Saya tidak ingat jumlahnya berapa, pokoknya cukup banyak. Tapi yang jelas, ini lah awalnya saya memproduksi peti buah.”

“Kalau sebelumnya, hanya buat kayu piri piri yang di jadikan rangka dan dinding peti buah,” ujarnya.

Beberapa bulan setelah membuat peti buah, persoalan pun datang.

Jatuh Bangun Usaha M Jinis

Salah satunya, kayu yang di olahnya di nyatakan tidak ada izin oleh aparat kepolisian.

Kemudian, dia pun meminta bantuan kepada Bupati Tanah Datar yang ketika itu di jabat oleh M Shadiq Pasadigoe.

Bupati bersama Dinas Kehutanan Tanah Datar, TNI/Polri kemudian meninjau usaha peti buah yang di buatnya.

Kemudian, Bupati menyebut bahwa kayu yang di olah menjadi peti buah ini kalau di Kabupaten Sijunjung di bakar orang.

Namun begitu, Shadiq tetap memerintahkan Dinas Kehutanan untuk mengurus izin pengolahan kayu miliknya.

Setelah izin keluar, Betti Shadiq yang merupakan istri dari bupati menawarkan dia untuk menjadi mitra binaan CSR Semen Padang.

Dengan senang hati, M. Jinis menerima tawaran tersebut.

Karena menurutnya, banyak kemudahan yang di dapat ketika menjadi mitra binaan CSR semen Padang.

“Selain dapat pinjaman modal usaha, saya juga di berikan pelatihan manajemen keuangan,” katanya.

Darisana dia mendapatkan pinjaman modal usaha dari Rp10 juta hingga kini Rp50 juta.

“Dengan modal itu rata-rata produksi peti buah mencapai 300 sehari. Untuk 1 peti buah di jual seharga Rp 13.000.

“Jadi, kalau di kalkulasikan, pendapatan sehari bisa mencapai Rp4 juta. itu masih pendapatan kotor,” pungkasnya.(*)