Semenjak era teknologi berkembang sangat pesat, sering kita dengar banyak perusahaan rintisan atau startup yang memperoleh suntikan modal berjuta-juta dolar dari Venture Capital. Misalnya Gojek, dulu berawal  di tahun 2010 sebagai perusahaan call center pemesanan ojek, kini berevolusi menjadi aplikator transportasi online, pesan antar makanan, hingga layanan finansial. Bahkan juga “menggurita” ke bidang e-commerce (Tokopedia), bank digital (Jago), hingga berbagai afiliasi perusahaan lainnya.

Selain GOTO, ada juga startup lain yang nilainya sudah menembus miliaran dolar seperti Kopi Kenangan, Bukalapak, Traveloka, Xendit, J&T Express, hingga Ajaib. Padahal para startup itu rata-rata baru beroperasi kurang dari 20 tahun lho. Nah bisa berkembang sangat pesat seperti itu, pernahkah kita bertanya-tanya… darimana duitnya??? Bukan dari dana pemerintah, atau bank, justru sebagian besar dana yang digunakan oleh startup untuk terbang tinggi ini berasal dari para “Sultan” Venture Capital atau biasa disebut VC.

Nah, apa sih VC itu? uang jutaan dolar yang disuntikkan ke para startup itu asalnya dari mana? ayo kita kulik sama-sama.

Arus Modal Global

Bicara tentang Venture Capital (VC), sejatinya adalah salah satu dari sekian banyak model bisnis perusahaan investasi. Mengutip artikel di Investopedia, VC diartikan sebagai berikut. Venture capital (VC) is a form of private equity and a type of financing that investors provide to startup companies and small businesses that are believed to have long-term growth potential

Jadi, VC ini merupakan perusahaan swasta yang mengelola investasi kepada perusahaan-perusahaan rintisan yang diyakini memiliki pertumbuhan dalam jangka panjang. Meskipun baru populer di era saat perusahaan berstatus unicorn dan decacorn bermunculan, namun sejatinya model bisnis VC ini sudah berkembang sejak lama. Salah satu yang disebut-sebut menjadi pionir VC modern adalah Arthur Rock. Manajer investasi yang dulu menginisiasi pendanaan untuk Intel dan Apple di awal tahun era industri komputer lahir di dunia sekitar tahun 1960-an.

Kini sudah banyak nama-nama besar global seperti Sequoia Capital, SoftBank, dan Tiger Global. Di Indonesia sendiri sudah banyak VC yang malang melintang di level regional seperti East Ventures, Alpha JWC, hingga Salt Ventures. Bahkan tidak sedikit juga VC yang didirikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antara lain MDI Ventures (Telkom), Mandiri Capital (Mandiri), dan BRI Ventures (BRI). Mereka juga sangat aktif menyuntikkan modal ke berbagai startup potensial di tanah air.

Lalu, apa ya tujuan VC ini “jor-joran” menebar uang sebanyak itu? dan mengapa lebih identik investasi tersebut ke perusahaan rintisan atau startup? Hampir sama seperti perusahaan investasi pada umumnya, VC memiliki tujuan investasi untuk memperoleh imbal hasil. Namun bedanya, VC memiliki risk appetite investasi yang tinggi, dengan ekspektasi imbal hasil lebih tinggi pula. Oleh karena itu, target investasi VC adalah perusahaan rintisan yang memiliki potensi dan agility untuk berkembang pesat. Dalam bisnis konvensional, perusahaan-perusahaan yang baru berdiri dan memiliki model bisnis yang unik atau berbeda hampir pasti akan sulit memperoleh pendanaan modal dari bank atau lembaga keuangan lainnya.

Gojek misalnya, di awal berdiri, siapa yang cukup “gila” untuk berinvestasi kepada perusahaan baru yang bermodal call center untuk menghubungkan ojek dengan penggunanya? Keuangan masih merugi, aset perusahaan hanya telepon dan komputer, manajemennya anak-anak muda semua. Logika bisnis biasa pasti akan obviously say no jika kita diminta menaruh uang di perusahaan itu bukan?

Namun logika itu tidak berlaku bagi VC. Merekalah perusahaan yang cukup gila untuk percaya dengan visi dan potensi Gojek, menyuntikkan modal, tumbuh dan berkembang bersama upaya perusahaan rintisan mendisrupsi pasar. Dalam konteks Gojek, salah satu VC yang berani menanamkan investasi saat early stage adalah NSI Ventures, afiliasi dari Northstar Group. Pendanaan awal saat itu bernilai sekitar US$ 2 juta atau sekitar Rp26 miliar. Well, nominal itu sekarang bernilai berkali-kali lipat.

Pendanaan yang diberikan VC umumnya adalah equity fund, atau secara sederhana seperti membeli saham atau bagian kepemilikan perusahaan startup. Hingga pada suatu waktu, VC tersebut dapat menjual sahamnya di harga yang lebih tinggi ke VC lain, perusahaan lain, atau bahkan ke publik jika startup ini melantai di bursa atau IPO. Tentu saja kini skema pendanaan pasti sudah jauh lebih beragam, bahkan kini VC tidak hanya berinvestasi, tapi juga memberikan mentorship dan connecting the dot untuk mendorong perusahaan berkembang lebih cepat. Sebuah VC besar pasti memiliki portfolio investasi di berbagai startup yang bisa jadi membentuk ekosistem dan simbiosis bisnis yang sangat kuat.

Dari Mana Uangnya?

Teringat kembali pada berbagai berita yang menyebutkan bahwa VC ini VC itu menyuntikkan modal triliunan rupiah ke berbagai startup, tentu membuat kita bertanya-tanya. Dari mana sih uangnya? Apakah kantong pribadi? Atau dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi? No..no.. dana jumbo yang disebar oleh VC itu berasal dari para investor yang disebut Limited Partners (LP). Para LP ini dapat berupa lembaga pengelola dana pensiun, institusi swasta, atau bisa jadi individu dan keluarga tajir melintir yang uangnya tumpah-tumpah.

Jadi VC hadir untuk menghimpun dan mengelola dana-dana dari para LP untuk diinvestasikan ke berbagai startup yang dinilai memiliki potensi. Dalam kontrak bisnisnya, LP akan membayarkan management fee dan commision fee untuk pengelolaan investasi oleh VC. Namun bukannya tadi disebutkan, menyuntikkan modal ke startup kan risikonya tinggi? kalau startup-nya sukses sih enak ya, tapi bagaimana jika sebagian besar startup itu berakhir dengan kegagalan?

Bahkan, Profesor Thomas R. Einsmann dari Harvard Business School pernah menjabarkan bahwa 90% startup berujung gagal.

Nah dengan success rate investasi ke startup yang hanya sekitar 10% itu, apakah VC bisa dapat untung?

Jelas, Venture Capital adalah model bisnis yang memiliki risiko yang tinggi.

Namun disitulah tantangan sekaligus seni terbesar dunia VC, bagaimana mereka melihat valuasi dan potensi perusahaan yang akan diberi modal, bagaimana mengelola risiko, bagaimana mendorong dan menghubungkan para startup agar bisa berkembang lebih cepat. Dalam framework ekonomi, VC telah berperan penting memberi jalan bagi lahirnya perusahaan-perusahaan yang mampu mengubah dunia. Meskipun kini di tengah turbulensi ekonomi global, banyak startup dan VC diprediksi akan menghadapi tantangan yang sangat besar.

Outlook ekonomi yang makin tak menentu, geopolitik global yang terus berubah, membuat VC makin berhati-hati menyalurkan dananya ke startup. Alhasil, kini para founders harus lebih efisien dan realistis menjalankan bisnisnya agar bisa survive. Menarik melihat perjalanan para startup dan VC ini mengubah dunia melalui bisnis-bisnis yang terus berevolusi, seperti salah satu kutipan mendiang Steve Jobs