Bank Indonesia (BI) terus berupaya memitigasi risiko kenaikan inflasi dan inflasi inti. Salah satu langkah yang diambil bank sentral dengan mengerek suku bunga di pasar uang dan penjualan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ini sebagai langkah untuk terus menyerap likuiditas yang berlebih yang memiliki tempo jangka pendek. Sebelumnya, BI sudah melakukan normalisasi giro wajib minimum (GWM) perbankan secara bertahap.

“GWM sudah menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp 219 triliun sejak 1 Maret hingga 15 Juli 2022. Ini bagian dari operasional moneter dalam pengendalian inflasi. Selain itu yang kami juga akan kami perkuat adalah mendorong kenaikan struktur suku bunga pasar uang. Ia menyatakan sebelumnya struktur bunga pasar uang untuk tenor satu minggu dan satu tahun adalah flat sekitar BI rate 3,5%. Maka, melalui operasi moneter, BI akan akan menaikkan suku bunga di pasar uang untuk jangka waktu 1 minggu, 3 bulan, 9 bulan 12 bulan.

“Sebagai contoh suku bunga yang di pasar uang yang berjangka waktu 1 bulan adalah 3,55% dan tentu saja terus meningkat untuk jangka waktu yang 3 bulan, 6 bulan, maupun seterusnya dan dilakukan lewat operasi penguatan moneter. Asal tahu saja, pasar uang bisa dilakukan antar bank atau dikenal pasar uang antar bank (PUAB). Lewat mekanisme ini. memungkinkan terjadinya pertemuan antara pihak yang kelebihan dana dan yang defisit.

PUAB merupakan salah satu sumber pendanaan bank jangka pendek yang bersifat tanpa agunan untuk mengatasi masalah liquidity mismatch yang kerap terjadi di bank. Harapannya, dengan kenaikan struktur bunga pasar uang, maka penyaluran kredit bisa lebih tinggi lagi. BI mencermati, di pasar uang, suku bunga IndONIA pada Juni 2022 stabil sebesar 2,80% dibandingkan dengan Juni 2021. Di pasar dana, suku bunga deposito 1 bulan perbankan turun sebesar 69 bps sejak Juni 2021 menjadi 2,81 % pada Juni 2022.

Di pasar kredit, suku bunga kredit menunjukkan penurunan 58 bps pada periode yang sama menjadi 8,94%, di tengah membaiknya persepsi risiko perbankan. Bank Indonesia memandang peran perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan, termasuk melalui penurunan suku bunga kredit, dapat ditingkatkan guna makin mendorong pemulihan ekonomi nasional.