Perang Ukraina berdampak pada perekonomian global, termasuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. memberitakan, Dana Moneter Internasional (IMF) Senior Resident Representative for Indonesia, situasi sulit yang terjadi saat ini akibat pandemi Covid-19 sudah mulai mereda.

“Namun, ada krisis Ukraina,” jelasnya saat memberikan Kuliah Umum kepada PPRA 63 dan 64 dengan tema “Indonesia’s Economic Resilience and Future Challenges jika dibandingkan negara-negara di Eropa, krisis perang di Ukraina tidak berdampak secara langsung bagi negara di Asia. Ekonomi di China misalnya, saat ini mulai stabil secara perlahan. Namun, dia mengingatkan, ada tantangan ke depannya mengenai pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di masa krisis. Hal itu tidak hanya terjadi di China, melainkan juga Indonesia.

Walsh menyebut, perang Ukraina menyebabkan harga komoditas menjadi lebih tinggi. Dampaknya, harga minyak goreng dan BBM di Indonesia semakin meningkat. Namun, Pemerintah Indonesia berhasil menekan laju peningkatan harga BBM melalui pemberian subsidi. “Pemerintah perlu menjaga daya beli agar pertumbuhan ekonomi juga dapat terjaga,” jelasnya.

Di sisi lain, negara dengan penghasilan rendah juga mengalami kerugian yang sangat parah saat pandemi, khususnya pada sektor pariwisata. Hal ini diakibatkan oleh penutupan dan pembatasan perjalanan dalam waktu yang cukup lama. Tidak hanya itu saja, lanjutnya, masih banyak negara yang masih berjuang dalam hal utang dan investasi untuk bisa menumbuhkan ekonomi kembali ke masa-masa sebelum pandemi.

“Sebenarnya pertumbuhannya cukup baik sebelum pandemi, namun jatuh, terjun bebas setelah pandemi. Dan saat ini banyak negara mencoba untuk pulih ke masa sebelum pandemi,” ujar Walsh. Wakil Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI MS. Fadhilah dalam sambutannya juga sependapat dengan James Walsh.

Fadhilah mengatakan, prospek ekonomi di Indonesia terlihat menjadi lebih baik. Namun, risiko tetap tinggi karena situasi keuangan global yang lebih ketat dan penyebaran varian omicron, serta krisis geopolitik.