Pabrik tekstril celup celana jeans di Rancaekek, Kabupaten Bandung, disegel polisi karena membuang limbah tidak pada tempatnya. Limbah ditimbun di belakang pabrik. Dari upaya penimbunan selama dua tahun, pihak pengelola bisa irit biaya hingga Rp 2 miliar. Namun tindakan ini berbahaya bagi lingkungan karena limbahnya dikategorikan bahan beracun berbahaya (B3). Kabid Pengendalian Pencemaran dan Penataan Hukum Lingkungan (P3HL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Robby Dewantara akan mengevaluasi perusahaan tersebut.

“Ini sesuai dengan hasil kegiatan ini memang dari segi administratif kita lakukan evaluasi, terkait dengan perusahaan ini. Ya, termasuk dengan izinnya, karena izin lingkungannya ada, sehingga kita akan evaluasi secara keseluruhan,” ujar Robby, saat press rilis di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung Robby mengatakan pembuangan limbah B3 dari pabrik tersebut lokasinya terpencil. Menurutnya lokasinya berada di belakang pabrik yang berdekatan langsung dengan salah satu rusunawa.

“Memang kan ini dari lokasinya juga tertutup dan terpencil, sehingga ini juga tidak bisa diakses oleh siapapun masuk ke sini. Kebetulan itu kemarin kita dengan Polresta kena di sini,” katanya. Dia menyebut sempat kesulitan dalam mengakses pembuangan limbah B3 dari pabrik tersebut. “Ya betul karena sangat terpencil dan sangat tertutup, satu titik pembuangannya dan ini pasti terkunci,  Robby mengungkapkan pabrik tersebut telah memiliki izin lingkungan.

Namun pengelolaan limbah B3 tersebut tidak sesuai dengan ketentuan. “Ya kalau izinnya udah ada, izin lingkungannya juga sudah lengkap, hanya memang ini tidak sesuai ketentuan, harusnya sesuai. Jadi pengelolaannya harusnya diolah dulu, kemudian di pembuangan limbah B3 lalu diangkut oleh pihak ketiga yang sudah mempunyai izin,” kata Robby. Dia mengaku selalu melakukan monitoring evaluasi (monev). Menurutnya ada beberapa monev yang tidak berjalan.

“Ada (monev), berjalan, ada beberapa titik yang berjalan, dan di kami juga ada save monitoring yang berlangsung. Hanya saja mungkin ada yang tidak berjalan, “Mengandalkan laporan ada, pemerikasaan lapangan ada dan sebagainya ada. Kemarin tahun 2021 sebetulnya ada kegiatan di sini, waktu Sungai Cimande, (tapi luput) karena kita konsentrasinya di air,” tambahnya.

Dia menambahkan, adanya pengungkapan kasus tersebut bisa menjadi patokan terhadap pabrik-pabrik nakal lainnya. Sebab bisa jadi hal serupa dilakukan pabrik lain. “Pengungkapan kasus ini jadi patokan juga, jadi yakin akan berimbas, karena ada titik yang lain yang seperti ini. Kita pernah nangani juga hal yang seperti ini, hanya saja memang ini agak privat, jadi memang kalau tidak ada ciri-ciri khusus mungkin tidak ada yang tahu perusahaan ini lalai terhadap limbah,