Sejumlah permasalahan global, menciptakan limpahan utang. Tidak hanya untuk negara berkembang, melainkan juga untuk negara maju. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sekitar 60% dari negara berpenghasilan rendah rentan mengalami kebangkrutan. Sementara itu, negara berpenghasilan menengah atau negara berkembang diperkirakan tidak mampu membayar utang tahun depan.

“Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa. Ini menjadi meluas ini dan masalah yang perlu menjadi perhatian menteri keuangan dan gubernur bank sentral bersama dengan organisasi internasional lembaga multilateral,” tutur Sri Mulyani saat memimpin pertemuan ketiga Finance Ministers and Central Bank Governors (FMBG) Meeting, di Nusa Dua Bali. Sri Mulyani berharap, anggota G20 bisa bekerja sama dan bersatu dalam menghadapi krisis global yang ada saat ini. Sebab, banyak negara mengharapkan dan berekspektasi tinggi pada forum ini, agar permasalahan global segera teratasi.

Anggota G20 juga diharapkan bisa mengambil tindakan nyata juga menunjukkan semangat kerja sama, kolaborasi, dan konsensus.

Adapun permasalahan muncul salah satunya karena kenaikan harga komoditas global yang melonjak.

“Ini merupakan peningkatan terbesar untuk periode dua tahun sejak tahun 1997. Bahkan, bulan Juni kita menyaksikan harga gas alam di Eropa naik 60% hanya dalam dua minggu” kata Dia. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bahkan menjadi permasalahan politik dan sosial di sejmulah negara. Misalnya di Sri Lanka, Ghana, Peru dan Ekuador. Selain itu, ketegangan perang antara Rusia dan Ukraina juga membuat harga komoditas mendorong lonjakan inflasi global dan meningkatkan ketidakstabilan sosial lebih lanjut.

“Kita bisa melihat penurunan lebih lanjut dalam standar hidup, tetapi terutama untuk rumah tangga miskin dan rentan. Negara-negara pengimpor komoditas berpenghasilan rendah kemungkinan besar akan sangat terpengaruh, yang dapat menyebabkan kerusuhan sosial dan politik yang lebih lanjut. Untuk itu, ia meminta agar negara-negara berkembang semakin waspada karena sejumlah permasalahan global membutuhkan pembiayaan besar. Pergeseran harga komoditas dan peningkatan inflasi global ini paling besar memicu dan menciptakan utang di berbagai negara.