Pitching atau mempresentasikan ide dan strategi bisnis kepada investor guna mendapat pendanaan adalah salah satu momen penting bagi para pendiri bisnis rintisan (startup). Setiap harinya, ada puluhan bahkan ratusan ide brilian yang dapat didengarkan oleh para investor. Caramu dalam mengolah bahan presentasi dan menyampaikannya adalah pekerjaan rumah yang harus dikuasai sebelum beraksi di depan calon investor.

Kali ini, kita akan membahas kesalahan-kesalahan yang perlu dihindari dalam mempresentasikan bisnismu berdasarkan pandangan dari Juvenco Pelupessy, Principal di Skystar Capital di siniar (podcast) OBSESIF season tiga episode ke-5, “Juvenco Pelupessy: How to Deliver A Killer Pitch Deck”.

Sebagai informasi, Skystar Capital adalah pemodal ventura yang berfokus pada pendanaan awal untuk perusahaan rintisan berbasis teknologi.

1. Penjelasan yang berbelit

Proses pitching umumnya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Tugasmu adalah memanfaatkan waktu singkat itu secara efisien dengan teknik presentasi yang sederhana, tetapi tepat sasaran. Kamu tentu tidak ingin kehilangan kesempatan memperoleh pendanaan hanya karena calon investormu tidak bisa memahami apa yang sebenarnya ditawarkan oleh perusahaanmu. Untuk itu, hindarilah istilah-istilah rumit atau teknis yang tidak banyak dipahami orang secara umum.

Menimbang keragaman latar belakang pendidikan, status sosial, hingga usia calon investor, sebaiknya kamu menggunakan istilah yang pasti dipahami olehnya.  Penjelasan yang berbelit hanya akan membuat presentasimu sulit dipahami sehingga masalah yang hendak diselesaikan oleh bisnismu akan terkesan terlalu kompleks. Bisa jadi, hal tersebut justru mengalihkan perhatian calon investor dari bahasan utama yang kamu sampaikan.

2. Cara memposisikan calon investor

Cara terbaik dalam memosisikan investor saat mempresentasikan bisnis adalah sebagai calon rekan. Perlu diingat bahwa hanya karena investor memberimu pendanaan, bukan berarti posisinya lebih tinggi daripada para pendiri di perusahaanmu. Hindari pola pikir ‘mengemis’ kepada investor, sebab sejatinya pengusaha dan investor adalah dua pihak yang saling bertukar nilai (value). Posisikanlah ia setara dengan dirimu. Juvenco menyarankan para pendiri usaha untuk menggunakan seni tarik ulur untuk menarik minat investor. “Jangan pernah raise money when you need it, only raise money when you can raise it,” ucap mantan pendiri perusahaan Bibit ini. Artinya, para pendiri perusahaan perlu terlebih dahulu yakin dan siap akan kekuatan ide serta strategi bisnisnya sehingga perusahaan tersebut memiliki posisi tawar-menawar yang tak ingin dilewatkan oleh investor.

3. Penggunaan anggaran yang tidak tepat

Kesalahan fatal lainnya yang sering dilakukan para pendiri perusahaan adalah pengaturan anggaran yang tidak tepat. Dalam arti lain, modal yang hendak diperoleh dari investor tidak direncanakan dengan baik atau masuk akal. Contoh riil yang acap kali ditemui oleh Juvenco, yakni para perusahaan rintisan teknologi yang sedari awal merencanakan puluhan fitur dengan modal pertamanya. Selain arah bisnis yang jadi kurang optimal dan fokus, dana yang ada juga dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti yang sudah diketahui, investor adalah pihak yang akan membantu pengembangan perusahaan yang kamu bangun dari sisi pendanaan. Tentu, selain mengetahui bahwa ide bisnismu menarik, mereka ingin mendapat kepastian bahwa dana yang diberikan dapat dialokasikan dan dikembangkan secara tepat.