Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah terus mengampanyekan transisi energi dari penggunaan energi berbasis fosik menuju energi non fosil yang lebih bersih. Berbagai cara ditempuh agar penggunaan energi ramah lingkungan semakin masif. Kebutuhan energi dari sumber eneri terbarukan memang menjadi suatu keniscayaan di masa mendatang. Ini karena sumber-sumber energi fosil lama kelamanan bakal menipis karena tidak dapat diperbaharui. Seiring dengan masa transisi energi ini, akan muncul kebutuhan sumber daya manusia (SDM) guna mengisi dan mengelola sumber-sember energi yang baru dan terbarukan. Untuk itu, para pemangku kepentingan di sektor energi perlu memikirkan strategi yang tepat agar SDM yang ada kelak bisa memenuhi kebutuhan industri.

Kesiapan SDM ini mutlak diperlukan agar posisi-posisi strategis di industri energi bisa diisi talenta lokal. Ihwal kebutuhan tenaga profesional di masa transisi energi ini menjadi bahasan menarik yang disampaikan oleh praktisi SDM sektor energi Dony Indrawan pada diskusi virtual “Strategi Pengelolaan Sumber Daya Manusia Dalam Menyambut Transisi Energi Indonesia,” di Jakarta baru-baru ini. Dony memaparkan bahwa rencana transisi energi Indonesia harus disertai dengan pengelolaan SDM agar tetap efektif dan relevan sehingga mampu mendorong keberhasilan transisi energi Indonesia sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Tanpa melakukan perubahan dalam pengelolaan SDM, khususnya SDM energi, maka proses transisi diperkirakan akan berjalan lambat dan bauran energi hanya akan menjadi impian dan cita-cita yang semu saja.

Apa yang disampaikan pada diskusi tersebut semakin membuka mata bahwa sesungguhnya transisi energi bisa berhasil apabila diikuti kesiapan tenaga-tenaga ahlinya. Maklum, kendati sama-sama di sektor energi, namun secara teknis terdapat perbedaan signifikan di setiap sektor bisnis yang digarapnya. Misalnya saja, pengeboran minyak bumi yang sudah tentu berbeda dengan pengeboran panas bumi. Begitu pun pengelolaan energi baru terbarukan (EBT) yang bersumber dari angin (bayu) sudah pasti berbeda secara teknis dengan EBT bersumber dari surya atau matahari. Melihat beragamnya sumber potensi EBT yang ada di tanah air, maka sudah seharusnya setiap sektor memiliki perhitungan aset SDM tersendiri yang disesuaikan dengan RUEN.

Ini penting mengingat RUEN merupakan acuan bagi para pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain dalam penyediaan energi nasional. Hal tersebut akan berkaitan dengan kebijakan penyiapan dana, infrastruktur, kurikulum, dan penyiapan SDM potensial untuk pengembangan ilmu dan teknologi, termasuk riset-riset dan pemanfaatan praktik terbaik di dunia pendidikan. Dony, yang pernah berkarir di kantor pusat Chevron di Texas, Amerika Serikat (AS) ini mengungkapkan, selain menyiapkan SDM berbasis RUEN, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah. Antara lain, perlunya mengubah demografi keahlian SDM energi Indonesia.

Langkah ini diperlukan mengingat proses untuk menjadikan seseorang ahli di sektor energi tidak bisa dilakukan dengan singkat. Sehingga diperlukan data yang akurat untuk menetapkan jumlah kebutuhan ahli/tenaga profesional berdasarkan bidang-bidang keahlian yang dipetakan secara realistis dalam bauran energi Indonesia. Hal lain adalahmengubah mindset SDM dalam pemanfaatan energi. Rencana transisi energi dan bauran energi tidak akan berjalan mulus tanpa melakukan perubahan mindset masyarakat secara luas dan para pelaku utama dalam industri atau sektor energi ini.

Untuk menunjang perubahan mindset ini, pemerintah sebaiknya mulai terus mengkampanyekan pentingnya pemanfaatan energi fosil yang bijak serta mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan secara berimbang dan juga agresif. Dalam tahapan ini, masyarakat dan pelaku industri energi harus diberikan keyakinan bahwa pemanfaatan energi berdasarkan rencana bauran energi yang ada akan tetap menghasilkanvalue/nilai yang diharapkan sebagaimana yang telah mereka nikmati selama ini bahkan mampu memberikan manfaat yang lebih baik lagi. Lalu, bagaimna sebaiknya perusahaan menyiapkan SDM menyambut transisi energi yang didalamnya termaktub visi pengurangan emisi carbon menjadi net zero emission pada 2060?

Bagi korporasi, era transisi ini menjadi tantangan tersendiri karena selain harus pandai mendidik talenta baru di bisnis ‘hijau’ juga perlu mengantisipasi apabila transisi energi ternyata berjalan lebih cepat. Jika ini terjadi, maka perusahaan mau tidak mau harus mencari jalan pintas dengan cara menerapkan kebijakantalent acquisition.Sudah siapkah?