Kinerja mata uang pounsterling Inggris melempeng menghadapi mata uang Euro pada perdagangan hari ini, Kamis (21/7/2022).
Suku Bunga Eropa Naik, Poundsterling Melempem Lawan Euro.  Kinerja mata uang pounsterling Inggris melempeng menghadapi mata uang Euro pada perdagangan hari ini, Menguatnya nilai mata uang benua biru itu tak lepas dari keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menaikkan suku bunga. Saat ini, Pound Inggris mencapai level terendah dalam dua pekan terakhir terhadap eurom setelah ECB menaikkan suku bunga lebih dari perkiraan. Sementara angka pinjaman publik menambah kesengsaraan yang dihadapi ekonomi Inggris.

Lonjakan biaya utang yang didorong oleh melonjaknya inflasi ke dua kali puncak bulanan sebelumnya, menambah defisit anggaran Inggris pada Juni, tertinggi sejak April 2021, data menunjukkan. Pound telah tergelincir kembali setelah angka pinjaman sektor publik terbaru. Peningkatan inflasi headline yang berkelanjutan, dan ambivalensi Bank of England terhadapnya tentu tidak membantu dalam hal ini,” kata kepala analis pasar di CMC Markets UK, Michael Hewson.

Beberapa analis mencatat pelemahan pound dipengaruhi oleh peristiwa di Eropa dan selera umum pasar terhadap risiko.

“Tindakan harga GBP tampak seperti fungsi dari lingkungan risiko yang lebih luas, yang saat ini mengambil isyarat dari perkembangan di Eropa,” kata kepala analisis Monex Eropa, Simon Harvey. Terhadap euro, pound turun sebanyak 1%, mencapai level terendah dua pekan di 85,85 pence. Pada 14.50 GMT, pound kembali loyo 0,4% terhadap mata uang tunggal di 85,35 pence.

Sterling turun 0,3% terhadap dolar menjadi USD1,1947 tetapi tetap di atas level terendah 28-bulan pekan lalu. (TYO)

Rupiah Makin Perkasa dari Dolar AS, Sinyal Kebangkitan Ekonomi RI

Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Rupiah ditutup menguat 40 point di level Rp 14.287

Pengamat Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi mengatakan, menguatnya rupiah didorong oleh sinyal pemulihan ekonomi yang sudah terlihat. Diprediksi, pada kuartal II Indonesia sudah keluar dari zona resesi. Sinyal pemulihan ekonomi sudah terlihat jelas, dalam hitungan bulan, Kuartal Kedua tahun 2021 akan segera berakhir dan pertumbuhan ekonomi di prediksi akan terus membaik dan Indonesia akan keluar dari zona resesi.” Ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (27/5/2021)

Ia menjelaskan bahwa para analis memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi berada dikisaran di 1-2 persen. Sedangkan pemerintah mewacanakan pertumbuhan ekonomi di 7-8 persen. Namun, lanjut Ibrahim, pemulihan ekonomi masih akan rentan apabila pasar masih ketakutan dengan penyebaran varian baru covid-19. Dimana ditakutkan dalam minggu-minggu ke depan akan terjadi ledakan kasus corona akibat arus balik mudik Idul Fitri pekan lalu.

Meski ada ketakutan akan ledakan Covid-19,dari segi data ekonomi pemerintah cukup optimis dengan prospek pertumbuhan ekonomi. Bahkan sebelumnya mengatakan pada Kuartal Kedua tahun 2021, ekonomi Indonesia akan tumbuh hingga 8 persen. sinyal pemulihan ekonomi ditunjukkan dengan kembalinya tingkat kepercayaan masyarakat ke level optimis pada angka 101,5. Angka ini jauh melampaui periode awal pandemi sejalan dengan tren mobilitas masyarakat yang mengalami peningkatan secara konsisten sejak bulan April.

Selain itu, Indeks penjualan retail menunjukkan keberlanjutan pemulihan konsumsi masyarakat pada Maret dan April 2021 yang secara umum ditopang oleh peningkatan konsumsi pada seluruh kelompok. Termasuk penjualan mobil ritel mencatatkan pertumbuhan yang sangat tinggi sebesar 227,6 persen (yoy) dan 2,5 persen (mtm).

“Ini dikatakan mengindikasikan perbaikan tingkat konsumsi kelas menengah.

Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp.14.250 – Rp.14.310. (RAMA)