Salah satu UMKM di bidang kuliner asal Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Dapur Mutiara, mengekspor 1 ton bumbu rendang ke Hamburg, Jerman. Gubernur Sumbar Mahyeldi saat melepas pengiriman bumbu rendang menuturkan, sebelumnya rendang sudah pernah dikirim ke Eropa, namun sebatas hubungan pribadi antara penjual dan pembeli. “Ini adalah langkah maju yang mudah-mudahan membuka pintu ke negara-negara Eropa.

Ia mengatakan Pemprov Sumbar memberikan dukungan penuh untuk produk-produk UMKM yang bisa menembus pasar luar negeri. “Yang paling berat untuk ekspor produk ini bagi UMKM adalah biaya pengiriman yang kabarnya sampai Rp 50 juta. Kita akan bantu biaya pengiriman ini sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kemajuan UMKM Sumbar.

Mahyeldi juga menyebut dukungan menjadi penting dilakukan karena ekspor produk itu meskipun saat ini nilainya masih relatif kecil. Namun ke depan, bila dilakukan dengan serius akan bisa menjadi pintu untuk tumbuhnya usaha skala industri di Sumbar. “Bumbu rendang membutuhkan banyak rempah dan bumbu. Ini tentu akan memiliki efek domino terhadap produk lain.

Lengkuas, serai, santan kelapa dan bumbu lain dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan stok. Maka, akan terbuka peluang perkebunan skala besar pula,” ujarnya. Ke depan, Pemprov Sumbar akan terus mengupayakan agar produk UMKM terutama rendang benar-benar bisa mendunia. Modalnya adalah diaspora Minang yang tersebar hampir di seluruh pelosok dunia. “Sekarang kita tengah menjajaki pasar Australia.

Kita cari orang Minang yang punya peternakan sapi di sana. Kita kirimkan bumbu rendang dari Sumbar. Nanti, rendangnya dibuat oleh orang Minang. Maka, meski dibuat di luar negeri, maka keotentikannya tetap terjaga,” ujarnya. Diaspora Minang Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumbar Nazwir mengatakan ekspor rendang Dapur Mutiara ke Jerman ini tidak lepas dari kepedulian diaspora Minang di perantauan.

Para perantau inilah yang getol ingin memperkenalkan rendang pada masyarakat Eropa. Prosesnya cukup panjang karena banyak regulasi dan kecocokan rasa yang harus disesuaikan dengan lidah orang Eropa,” Dalam proses hingga produk bisa dikirimkan dalam skala cukup besar ke Jerman itu menelan cukup banyak biaya. Semua ditanggung oleh para perantau keluarga Minang di Hamburg. “Kepedulian para perantau ini sungguh luar biasa.

Mudah-mudahan ini akan menjadi awal untuk ekspor yang lebih besar,” katanya. Diaspora Minang di Hamburg, Jerman, Budi Indra menyebutkan awal mula ekspor bumbu rendang ke Jerman itu karena kerinduan warga Indonesia di Jerman, tidak hanya orang Minang, terhadap kuliner rendang. “Jadi, dulu kami pernah membawa rendang ke Hamburg.

Dibagi-bagikan pada masyarakat Indonesia di sana. Ternyata semua suka. Lalu, mereka ingin makan rendang lagi. Maka dari situ, muncul ide untuk membuka bisnis rendang di Jerman,” ujarnya. Namun, karena regulasi di Jerman tidak membolehkan produk daging dari luar untuk diperjualbelikan, maka dicarikan solusi hanya mengirimkan bumbunya saja. Sementara daging bisa dipilih sesuai selera di negara itu.